Jumat, 01 Mei 2009

Sunday Morning Rainy Day


Dengar tidak suara itu?
Aliran air yang menghambur dari langit berupa titik-titik kecil transparan jatuh menerpa setiap apapun yang berada di bawahnya. Karena berbenturan dengan setiap elemen benda berbeda yang berada di bawahnya itulah aku yakin ia membentuk tangga nada teratur meskipun tidak begitu kentara. Jika ia turun dengan kencang dan bergandengan rapat, sedikit bulu2 halus di tengkuk akan menari bersamanya. Jika ia lemah dan turun satu-satu, maka alunannya akan membuat saraf pada mata melemah dan kelopaknya akan turun juga satu-satu.

Mmm... bisa cium baunya juga kan?
Yah jujur sebenarnya tidak ada yang bisa kau cium selain hawa dingin dan lembab dan perasaan lega di hidung seperti kita selesai buang ingus ketika pilek. Selanjutnya baunya tergantung juga pada apa yang ia sentuh di bawahnya; bau uap dari tanah kering, rumput basah, bahkan air got yang baunya sedikit berkurang karena tercairkan kekentalannya. Sumpah, wangi itu hanya bisa kamu cium tergantung dimana waktu itu kamu menikmatinya bukan?

Oh..oh... apakah itu suara angin? Berkesiut berdampingan dengan suaranya? Tidakkah ia merasa kurang sempurna jika angin tidak bersamanya? Rupanya ada sedikit persekongkolan agar angin bisa membawa bau dirinya kemana-mana sementara angin akhirnya bisa sedikit berbeda dari biasanya karena membawa massa.

Entah sudah berapa cerita terjalin untuknya.

Dan disinilah aku, terbaring di tempat tidurku menikmati hujan pada suatu hari Minggu di bulan Februari. Tidak terlalu deras tapi tidak bisa dibilang gerimis. Aku harap ia tidak turun berlebihan dan menimbulkan petaka (ooww... karena ulah kita juga bukan?)
Dengan masih bergelung selimut tebal, tubuh terbenam sempurna, dan mata dengan kelopak setengah, aku melihat siluet titik-titik tetesannya terlukis membasahi jendela kaca. Alunan bunyinya yang menerpa atap rumah dan mengenai sejumput rumput di sedikit halaman depan rumah, terdengar teratur melenakan. Hidungku kembang kempis berharap mencium wanginya. Matahari tidak muncul dengan sempurna sehingga sangkaanku langit tidak jauh dari gradasi warna abu-abu.

Aku merasa senang dan resah bersamaan. Dingin dan hangat. Lembab dan segar. Malas tetapi berenergi. Bosan sekaligus bergairah. Meskipun kesadaran otak sedang di bawah rata-rata, namun kesadaran bahwa hari ini hari Minggu yang artinya : terlepas-dari-rutinitas-kerja, membuat kebahagiaan dan kelegaan tercium bebas di udara.

Ah, perempuan ini sedang jatuh cinta pada keindahan dan anugerah ini. Jika salah satu tokoh wanita pada salah satu cerpen Guy De Maupassant jatuh cinta pada keindahan cahaya bulan yang menyebabkannya jatuh cinta pada orang lain yang bukan suaminya sendiri, maka aku, beruntunglah aku, reaksi keindahan itu bisa kurasakan dan kubagi bersama suamiku.
Dan dia terbaring di sebelahku. Sudah terjaga dengan setengah kelopak mata juga. Di antara kami tidak ada kata-kata. Hanya kesunyian dan suara hujan. Hanya tangan kami yang saling menggenggam erat dan hangat. Hanya kami yang saling menatap sekilas, tertegun, berbagi perasaan dan pengertian lalu melanjutkan menatap siluet hujan di jendela.

Di kepalaku terpetik lirik lagu Norah Jones,
...........
I wanna wake up with the rain
Falling on a tin roof
While I'm safe there in your arms
So all I ask is for you

To come away with me ......

Kalau sudah begini, masa aku tidak bersyukur padaNYA?